Tentang Pajak Impor di Batam

 



Hai Pelanggan POS Lion Parcel Royal Sincom,

Masih suka lupa dengan Peraturan Tentang Pajak di Batam.

Nah, Peraturan Menteri Keuangan Tentang Pajak ini sebenarnya sudah lama berlaku. Sudah lebih setahun yang lalu, tepatnya ditanggal 30 Januari 2020. Namun beberapa calon pelanggan masih belum tahu dengan apa sesungguhnya isi dari peraturan Menteri tersebut.

Para Lioner yang terhormat, Sekarang ini, barang impor dengan nilai minimal USD3 yang masuk ke Indonesia melalui Batam akan dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Nggak hanya itu aja, produk impor dengan nilai minimal USD 1 hingga maksimal USD3 juga akan dikenakan Pajak Penghasilan (PPh).

 Ayo simak informasi selengkapnya penjelasan ini yang kami kutip dari salah satu Marketplace partner kami yakni Tokopedia.

Sehubungan dengan diterbitkannya Peraturan Menteri Keuangan nomor PMK 199/PMK.10/2019, semua pemasukan barang melalui kiriman dari luar negeri dan termasuk Batam akan dikenakan Bea Masuk (BM) dan Pajak Dalam Rangka Impor [PDRI]. Berikut detailnya.

  • Untuk produk senilai USD3 (+- Rp42.000) atau lebih akan dikenakan PDRI, yaitu: PPN dan PPh.
  • Untuk produk di bawah USD3 atau minimal USD 1 (+- Rp14.500) dan akan dikenakan PPN.    
Namun, pemerintah juga merasionalisasikan tarif pajaknya dari sekitar 27,5%-37,5% menjadi sekitar 17,5%. Khusus untuk produk tertentu, yaitu: tas, sepatu dan tekstil, terdapat rasionalisasi tarif pajak khusus yang dapat dilihat pada tabel di bawah. Sementara untuk buku ilmu pengetahuan umum (termasuk majalah umum), nantinya akan diberlakukan tarif pajak khusus yang lebih ringan. 


Tabel perubahan tarif Bea Masuk dan Pajak Dalam Rangka Impor (PPN dan PPh) untuk harga produk minimal USD3


Istilah-istilah untuk menghitung pajak bea cukai produk impor:

  1. Nilai pabean (Harga barang total) = Harga barang + Asuransi + Ongkos kirim
  2. Bea masuk = Pungutan negara yang dikenakan terhadap barang impor
  3. PPN = Pajak Pertambahan Nilai
  4. PPh = Pajak Penghasilan

Apa yang harus Lioner atau Pengirim lakukan?

Jadi disarankan Lioner sebaiknya menyiapkan biaya Pajak ini jika datang ke POS Lion Parcel. Jika memakai aplikasi Lion Parcel biaya yang tertera di aplikasi belum termasuk pajak keluar Batam ini, sehingga Lioner bisa menanyakan besaran pajak kepada driver yang menjemput atau hubungi POS Admin driver tersebut.

Di system POS Lion Parcel, besaran pajak akan muncul secara otomatis dengan perhitungan dari besaran harga barang yang akan  dikirim dan jenis barang. 

Untuk proses pengiriman dan pembayaran pajak, setelah Lioner tahu besaran perhitungan pajak bea masuk, Lioner bisa melakukan penitipan pembayaran pajak ke pihak Driver, atau juga transfer ke Admin POS driver tersebut. Pihak POS Lion Parcel (dalam hal ini umpamanya POS Lion Parcel Royal Sincom) akan membuatkan form CN23 untuk Lioner atau calon pengirim dan menempelkan bukti form CN23 di paket ataupun dokumen Anda.

Untuk detail tentang form CN23 silahkan klik disini.

Mengapa Kebijakan ini muncul..?

Menurut Direktur Kepabeanan Internasional dan Antar Lembaga, Syarif Hidayat, tujuannya antara lain:

  1. Meningkatkan penjualan produsen dalam negeri
  2. Menciptakan perlakuan yang adil dalam perpajakan antara pelaku usaha dalam negeri IKM dan pelaku usaha yang menjual barang impor.
  3. Mendorong masyarakat untuk lebih menggunakan produk dalam negeri.

Cari tahu cara perhitungan pajaknya

Dari pada sibuk memusingkan setuju atau nggak setuju dengan aturan ini, lebih baik pelajari apa saja perubahannya dan bagaimana cara perhitungannya. Pebisnis harus bisa cepat beradaptasi, toh?

Contoh Kasus 1:

Pada tanggal 30 Januari 2020, Pak Rudi, seorang Seller, membeli handphone dari luar negeri (contoh: Singapura) dengan harga sebesar USD1.500 atau sekitar Rp21.000.000 (sudah termasuk asuransi dan ongkos kirim) untuk dijual kembali. Bagaimana cara menghitung jumlah Bea Masuk dan PDRI yang harus dibayar oleh Pak Rudi sebagai bagian dari harga jual?

a. Apakah handphone yang dibeli oleh Pak Rudi dikenakan Bea Masuk dan PDRI?
Iya, terkena Bea Masuk dan PPN karena harga handphone tersebut melebihi USD3. Pak Rudi harus membayar Bea Masuk dan PPN 10% atas pembelian tersebut (sebagai informasi bahwa tidak ada batasan nominal De Minimus untuk pengenaan PPN).

b. Berapa jumlah Bea Masuk dan PDRI yang harus dibayar oleh Pak Rudi?

Nilai Pabean (harga barang total) = Rp21.000.000

Bea Masuk (7,5%) = 7,5% x Rp21.000.000 =  Rp1.575.000

PPN = 10% x (Bea Masuk + Nilai Pabean) = 10% x Rp22.575.000 = Rp2.257.500

PPh = Tidak ada

Total Pajak Dalam Rangka Impor yang harus dibayar Pak Rudi:

= Bea Masuk + PPN = Rp3.832.500

Total uang yang dikeluarkan Pak Rudi:

= Nilai Pabean + Total Pajak Dalam Rangka Impor           

= Rp21.000.000 + Rp3.832.500 = Rp24.832.500

Contoh Kasus 2:

Pada tanggal 30 Januari 2020, Ibu Sinta (memiliki NPWP), seorang Seller, membeli tas dari wilayah Batam dan dikirim ke Jakarta dengan harga sebesar Rp20.000.000 (sudah termasuk asuransi dan ongkos kirim) untuk dijual kembali kepada Buyer. Bagaimana cara menghitung jumlah Bea Masuk dan PDRI yang harus dilunasi oleh Ibu Sinta sebagai bagian dari harga jual?

a. Apakah tas yang dibeli oleh Ibu Sinta dikenakan Bea Masuk dan PDRI?
Iya, terkena Bea Masuk dan PPN karena harga tas tersebut melebihi USD3. Ibu Sinta harus membayar Bea Masuk dan PPN 10% atas pembelian tersebut (sebagai informasi bahwa tidak ada batasan nominal De Minimus untuk pengenaan PPN).

b. Berapa jumlah Bea Masuk dan PDRI yang harus dibayar oleh Ibu Sinta?

Nilai Pabean (harga barang total) = Rp20.000.000

Bea Masuk (15%) = 15% x Rp20.000.000 =  Rp3.000.000

PPN = 10% x (Bea Masuk + Nilai Pabean) = 10% x Rp23.000.000 = Rp2.300.000

PPh = 7,5% x (Bea Masuk + Nilai Pabean) = 7,5% x Rp23.000.000 = Rp1.725.000


Total Pajak Dalam Rangka Impor yang harus dibayar Ibu Sinta:

= Bea Masuk + PPN = Rp7.025.000


Total uang yang dikeluarkan Ibu Sinta:

= Nilai Pabean + Total Pajak Dalam Rangka Impor

= Rp20.000.000 + Rp7.025.000 = Rp27.025.000


Ilustrasi Pengiriman Barang Dari dan Menuju Batam

top description

Catatan:

Berdasarkan data dari DJBC, impor barang kiriman atas produk tas, sepatu dan tekstil adalah sebesar 63% dari total importasi barang kiriman. Pada umumnya, barang yang dijual dari Batam dapat dikategorikan menjadi 3 (tiga) jenis, yaitu:

  1. Barang impor dari Luar Negeri
  2. Barang transit dari dalam Daerah Pabean Lain (contoh: Jakarta dan Medan)
  3. Barang asli produksi Batam, yang dapat dibagi lagi menjadi:
  • Barang dengan bahan baku / barang setengah jadi atau jadi yang diimpor dari Luar Negeri; atau
  • Barang dengan bahan baku / barang setengah jadi atau jadi yang berasal dari lokal Dalam Negeri.

Tentunya pengenaan tarif atas kategori barang tersebut berbeda dan akan dikenakan terhadap Seller yang melakukan pemesanan barang (lihat pengenaan tarif pajak di bawah ini).

Pengenaan tarif pajak

a) Impor = Bea Masuk 7,5% + PPN 10% (produk Non Tas, Sepatu dan Tekstil)
Impor = Bea Masuk 15%-30% + PPN 10% (produk Tas, Sepatu dan Tekstil)

b) Transit = PPN 10% saja

c) Barang produksi Batam = PPN 10% saja.


Demikian ilustrasi dan penjelasannya. Semoga Lioner dan Pelanggan POS Lion Parcel Royal Sincom lebih paham tentang Seputar Pajak Impor danPengiriman Barang dari Batam.

So, jangan bingung lagi dan ayo kirim barang Anda Bersama Kami.


---000---


Sumber : Tokopedia, dengan beberapa perubahan.

Get Direction. Click Image